judul gambar

Tantangan Melakukan Manajemen Produksi Bagi BUMDesa Dalam Rencana Pengelolaan Air Bersih Secara Profesional dan Accountable di Desa Batu Dewa Kecamatan Curup Utara Kabupaten Rejang Lebong

Oleh:
Dori Suhendra, S.P
Program Pascasarjana Managemen Agribisnis
Universitas Bengkulu

Rejang Lebong, Indonesiadetik.com – Memajukan sebuah Bumdesa, menjadi penting bahwa para pengelola harus memahami dengan baik sistem operasional. Terutama tentang pengelolaan operasi BUMDesa. Pengelolaan operasi adalah usaha pengelolaan secara optimal penggunan faktor produksi: tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan mentah dan faktor produksi lainnya dalam proses tranformasi menjadi berbagai produk barang dan jasa. Dengan kata lain, pengelolaan operasi BUMDesa adalah melakukan fungsi-fungsi proses manajemen untuk mengarahkan output (keluaran) dalam jumlah, kualitas, harga, waktu dan tempat tertentu sesuai dengan permintaan konsumen (masyarakat).

Dalam dunia usaha, termasuk Badan Usaha Milik Desa aspek produksi memang merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan seluruh prosesnya dan menjaga proses itu. Sebab hal ini berhubungan langsung dengan penyediaan dan penggunaan sumber daya dalam menghasilkan produk barang dan jasa yang kemudian disalurkan pada konsumen.

Dalam proses produksi kegiatan pengelolaan atau manajemen memegang peranan yang sangat penting karena menyangkut kualitas yang harus dihasilkan yaitu hasil produksi yang memenuhi standar kualitas /mutu. Dengan kata lain, pengelolaan operasi produksi menjadi salah satu penentu dalam pengambilan keputusan guna menghasilkan produk yang standar dan berkualitas.

Baca Juga:  Penyiraman Pada Taman Di Kota Bengkulu Belum Merata

Sebagai contoh, BUMDesa yang bergerak dalam usaha penyediaan air bersih dapat memilih dan merancang sistem operasinya dengan alternatif sistem pipa dengan gravitasi, sistem pipa dengan pompa hidrolik, atau sistem truk tangki air. Setiap pilihan harus dipertimbangkan dengan matang dan mendalam sehingga sistem operasi yang dipilih benar-benar merupakan yang paling tepat.

Proses dan peralatan harus ditempatkan pada suatu lokasi dan ruangan usaha tertentu sesuai dengan pilihan sistem operasinya. BUMDesa harus memilih lokasi, penataan fasilitas atau bangunan di lokasi (site plan), dan unit produksi kemudian menentukan rancangan tata letak dan arus kerja. Setelah itu tugas pekerjaan harus dirumuskan. BUMDesa, harus menyusun strategi produksi dan operasi serta memilih kapasitas produksi terpasang.

Didalam UUD 1945 Pasal 33 (3). Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, di pasal 78 disebut bahwa pemanfaatan sumber daya alam merupakan salah satu aspek utama dalam mencapai tujuan pembangunan desa. Namun dalam praktiknya selama ini, pengelolaan sumber daya alam yang ada di desa seringkali dilakukan tanpa memperhatikan hak dan kepentingan masyarakat setempat. Akibatnya, timbul berbagai kerusakan lingkungan, kearifan lokal terabaikan dan kepentingan masyarakat desa terpinggirkan. Dampaknya adalah pembangunan desa tidak berjalan baik dan masyarakat desa tetap berada dalam lingkaran kemiskinan. Perangkat desa agar ikut mengelola sumber daya air yang ada di wilayahnya untuk keperluan pelayanan sosial maupun kegiatan usaha komersial. “Desa tidak boleh lagi jadi penonton saja tapi harus terjun langsung dalam pemanfaatan sumber daya air yang ada di desa, baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat maupun dikelola sebagai suatu usaha yang bisa memberikan income bagi kas desa. Rencana Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Batu Dewa Kecamatan Curup Utara Kabupaten Rejang Lebong merupakan Rencana upaya pengelolaan air bersih oleh masyarakat di Desa Batu Dewa, Kecamatan Curup Utara, Kabupaten Rejang Lebong, Provisi Bengkulu. BUMDes tersebut melakukan pemanfaatan mata air Bulak dengan menggunakan bak penampung dan distribusi air perpipaan dengan water meter sebagai alat ukur dalam menentukan iuran penggunaan air.

Baca Juga:  Sekdinpar, Beberkan Kiat Sukses Bulukumba Bangun Sektor Pariwisata

Inisitiatif peningkatan pengelolaan air bersih ini direncanakan secara partisipatif melalui musyawarah desa untuk memastikan proses pengambilan keputusan berjalan secara inklusif dan meminimalkan konflik (Knowledge Center Bappenas, 2016). Adapun strategi pelaksanaan inisatif pengelolaan air ini, dilakukan melalui: (i) pengubahan tata cara pemanfaatan air dari kondisi tanpa pengelolaan menjadi teratur dan terkelola sehingga distribusi air bersih adil dan merata, (ii) pemberlakuan iuran pemanfaatan air yang diukur dengan menggunakan water meter, (iii) pemberlakuan tarif air yang terjangkau oleh kelangan masyarakat prasejahtera, (iv) pengaturan pasokan air yang memadai untuk sektor pertanian/ perkebunan dan berbagai usaha untuk mendorong perekonomian serta, (v) menjaga kelestarian daerah tangkapan air.

Baca Juga:  BPBD Kaur Terus Berupaya Mencegah Penyebaran covid-19.

Dengan kata lain keberadaan BUMDes ini akan berkontribusi pada upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SGDs) atau tujuan – tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB) 6, “Akses Air Bersih dan Sanitasi”, dimana beberapa bagian dari targetnya adalah mencapai akses terhadap sanitasi dan kebersihan yang layak dan adil untuk semua, serta mengimplementasikan pengelolaan sumber air yang terintegrasi pada setiap level. Hal ini juga turut berkontribusi pada tujuan – Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 12, “Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab”, yang salah satu targetnya adalah manajemen berkelanjutan dan penggunaan yang efisien dari sumber daya alam.

Doc. Mr Bay

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.