judul gambar

“Laporan Lemah” Keseriusan Polres Kaur usut Traktor dijual dipertanyakan

Kaur, Bengkulu indonesiadetik.com – Status traktor yang diduga dijual oleh salah seorang oknum ketua kelompok tani Desa Lawang Agung, Kecamatan Lungkang Kule, Kabupaten Kaur masih menyisakan misteri. Bagaimana tidak, setelah dilakukan penyelidikan, penyidik reskrim Polres Kaur sampai saat ini masih saja menyatakan bahwa laporan terkait hilangnya traktor di Desa Lawang Agung masih lemah.

Rita Maryani, S.Pd selaku pemegang kuasa untuk mendampingi dan membela hak masyarakat Lawang Agung, berhasil menemui langsung penyidik Reskrim Polres Kaur, senin 05 April kemarin. Bersama pelapor, Rita berhasil mengkonfirmasi terkait laporan pelapor yang diduga lemah.

“Laporan lemah, minta pelapor memperkuat. Wa ada-ada saja penyidik, harusnya pihak penyidiklah yang harus bekerja keras mengungkap masalah ini, agar kejadian serupa tidak terulang di Kabupaten Kaur ini. ini saya datang ke Polres Kaur untuk menanyakan masalah lemah ini, lemah seperti apa yang dimaksud penyidik?” jelas Rita yang merupakan Ketua Umum Pergerakan Suara Rakyat (PSR) Indonesia.

Saat bertemu langsung dengan penyidik Reskrim Polres Kaur, Briptu Redho Situmeang, Rita langsung mengkonfirmasi terkait maksud dari lemahnya laporan. Dari penyidik didapatkan keterangan lemahnya status pelapor atas nama Iswandani diakibatkan pelapor bukanlah anggota kelompok tani, saksi yang dibawa beserta barang bukti masih kurang lengkap. Penyidik juga menyampaikan bahwa dari hasil penyelidikan dan BAP saksi dari pihak terlapor, SG yang merupakan ketua kelompok tani menyatakan traktor tidak dijual namun disewa. Sehingga dengan alasan tersebut akhirnya penyidik menyampaikan bahwa laporan lemah. Ditambah lagi pihak Dinas Pertanian menyatakan boleh bantuan traktor disewakan oleh kelompok tani. Rita yang mendengar langsung pemaparan alasan laporan lemah, tentu tidak terima. Sebab menurut Rita, jika begini cara penyidik menyelidiki kasus ini, maka sampai kapanpun tidak akan menemukan titik terang.

Baca Juga:  Berikan e-KTP Warga Disabilitas, Wawali : Mereka Punya Hak Untuk Bahagia

“Bukankah kewajiban kita sebagai masyarakat jika melihat tindak kejahatan melapor. Apapun status kita. Ini kenapa dibatasi? Aneh ini. Alasan polisi penyidik pula, kok gini? Kalau begini lalu yang berhak siapa?? Kalau kita masyarakat Desa lain menyaksikan ada pencurian karna melihat langsung, ditolak laporan, karna harus masyarakat desa yang melapor, sementara masyarakat desa sedang tidur semua. Apa pencurian dibiarkan saja? Jika polisi menginginkan warga Desa setempat yang melaporkan, yang melihat langsung harusnya melapor kemana?” Tegas Rita di depan penyidik langsung.

Penyidik yang mendengar penjelasan Rita menyampaikan bahwa tidak semua kasus sama. Sehingga terjadilah adu argumen.

“Tugas penyelidik itu selalin memeriksa, seharusnya juga menguji kebenaran dari keterangan yang diperoleh. Bukan malah menyatakan lemah, kemudian diam. Ini saat ditanya apa ada inisiatif menguji kebenaran saksi pihak SG, kebenaran bukti sewa, menguji apa dasar hukum bantuan boleh disewakan, yang bertujuan mengantisipasi dan mencegah terlapor lari dari kenyataan yang sebenarnya, malah terbalik. Pelapor yang diuji penyidik. Saya yang menyampaikan fakta malah dibentak, diintimidasi. Aneh” ungkap Rita yang menduga ada kejanggalan dalam penyelidikan.

Baca Juga:  Aulia Rachman: Pungli di Kota Medan Sudah Masuk Zona Merah

Indonesiadetik.com yang saat itu belum berhasil mewawancarai langsung penyidik, namun mendengarka dan menyaksikan langsung pelapor mengkonfirmasi terkait apa alasan laporan lemah yang didampingi oleh Ketua Umum PSR. Menangkap bahwa pihak pelapor tidak terima status lemah dari laporan. Upaya pendalaman pemeriksaan atas tindak pidana yang dilaporkan terkesan tidak ada. Sehingga pada penyampaian akhir, pihak pelapor menyatakan jika memang Polres Kaur tidak bisa mengungkap kasus ini. Maka pihak pelapor akan mengajukan pada Kepolisian Daerah (POLDA) Bengkulu, untuk ikut serta dalam proses penyelidikan, dan pemeriksaan agar bisa menemukan titik terang.

“Kalau begini cara penyidik menyelidiki kasus. Bukan laporan kami yang lemah. Tapi penyidik lah yang lemah” tutup rita saat wawancara.

Baca Juga:  Protes Tidak Memiliki Ijin Cafe Music Terbuka, Ketua IWO Barito Utara, Meminta Pemda Sikap Tanggapi Masalah Kebisingan

(ATY)

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.