Gapoktan Desa Air Satan Keluhkan Susahnnya Mengairi Sawah Mereka

Musi Rawas, indonesiadetik.com – Desa Air Satan kecamatan Muara Beliti merupakan sebuah desa dengan mayoritas penduduknya mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber mata pencaharian utama di banding sektor lainya.

Area persawahan yang luas, ditambah kontur dan jenis tanah yang baik membuat masyarakat desa lebih tertarik untuk memanfaatkan lahannya untuk bercocok tanam. Hal ini sangat lumrah dikarenakan desa ini sudah lama terkenal dengan padi sawahnya, serta penghasil buah semangka dan melon.

Sekitar satu dekade terakhir, petani didesa Air Satan ini mulai mengeluhkan sulitnya mendapatkan air secara kontinyu yang mengakibatkan masa tanam yang tidak teratur serta menurunnya hasil pertanian, bahkan ada kelompok tani dengan luasan garapan kurang lebih 25 hektar tidak bisa lagi ditanami padi.

Hal ini menjadi ironi, sebab Air Satan yang dulu kita kenal sebagai daerah yang kaya akan hasil berasnya’ sekarang berangsur-angsur berubah, dan mulai mengalami penurunan produksi yang disebabkan susahnya mendapatkan air.

Kolam air deras disepanjang aliran irigasi menuju desa air Satan inilah yang menjadi sumber biang keladinya, dengan membendung aliran air, ditambah meninggikan batas tinggi sisi kanan maupaun kiri pembatas aliran dengan semen membuat air benar-benar masuk secara maksimal kedalam kolam-kolam air deras tersebut.

Kolam-kolam tersebut rata-rata dimiliki oleh oknum mantan pejabat, atau pejabat yang masih aktif sampai saat ini. Kondisi ini diduga menjadi penyebab lambannya para pemilik wewenang untuk menegur atau menindak para oknum pemilik kolam deras tersebut.

Salah satu anggota Gapoktan desa air satan yang tidak mau disebutkan namanya ini, kepada indonesiadetik.com beliau menyampaikan bahwa didesa air satan terdapat 13 kelompok tani dengan luas garapan mencapai lebih kurang 425 hektar. “Sedangkan mengenai irigasi ini kalau diibaratkan, dulu ada orang mati karena aliran irigasi, sekarang tahi pun tidak hanyut” (ucapnya).

“Bahkan ada satu kelompok tani yang sudah tidak bisa lagi mendapatkan air’ inikan sungguh ironis’ padahal kalau dilihat dari desa tanah Periuk, debit air yang mengarah ke desa kami sungguhlah tinggi dan deras (imbuhnya).

“Kami sebagai petani hanya ingin pembagian air yang adil, memang kolam deras juga mencari untung seperti kami ini para petani, akan tetapi semua itukan ada aturannya. Kemudian pemanfaan air tersebut untuk kolam deras apakah ada izinnya?? jangan mentang-mentang punya kuasa terus seenaknya. Tolonglah kepada pemerintah dalam ini dinas PU pengairan untuk hadir mengatasi permasalahan kami ini” (pungkasnya).

Air memang menjadi sumber penghidupan manusia, maka dari itu haruslah ada kebijakan yang mengikat serta adil dalam menetapkan perkara mengenai air ini. Petani ataupun kolam air deras sama-sama membutuhkan banyak sekali air untuk membuat ekosistem yang dikelolanya dapat berkembang dengan baik. (*)

Dok. Amran

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *