judul gambar
judul gambar

Di Duga Dana BOS SMPN 7 Lubuklinggau, Salah Sasaran Serta Melanggar Aturan

Lubuklinggau, indonesiadetik.com – Dana Bantuan sekolah (BOS) tahun ini dialokasikan sebanyak 52,2 trilyun yang bakal disalurkan ke 216.662 sekolah dari jenjang SD, SMP, SMA/SMK, dan SLBN. Dana BOS tahun 2021 ini dihitung berdasarkan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) dan Indeks Peserta Didik (IPD) di tiap kabupaten/kota.

Dana Bos dapat dapat digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan sekolah seperti menyediakan alat belajar mengajar, membayar gaji guru, mengembangkan perpustakaan dan lain sebagainya.

Menerima laporan atas temuan dari lembaga Swadaya masyarakat (LSM) lubuk linggau.
Disalah satu sekolah dikota Lubuklinggau, tepatnya di SMP Negeri 7 rupanya dana BOS tersebut terjadi salah kelola, sebab sudah terlalu jauh digunakan untuk merenovasi atap gedung sekolah yang tentusaja memakan biaya besar.

Baca Juga:  Aniaya Pelajar, Kades Dan Perangkat Desa Ditangkap Polisi

Kejadian ini sungguh sangat disayangakan, karena untuk perbaikan atau merenovasi sekolah pemerintah sudah memasukkannya kedalam dana APBN yang disebut Dana Alokasi Khusus (DAK). Tidak mengertinya pihak sekolah atau memang disengaja?…tentunya hal tersebut jelas melanggar, dan harus segera dilakukan evaluasi sesegera mungkin.

Disamping keliru penggunaan, disini juga menimbulkan sebuah pertanyaan berbagai pihak, termasuk awak media “kalau dana bos dipergunakan untuk merehap atap gedung, lalu kalau dana DAK dari APBN cair, dipergunakan untuk apa? Tentunya pasti akan banyak timbul dugaan kearah yang negatif.

Saat indonesiadetik.com mengklarifikasi ke pihak SMPN 7 kota Lubuklinggau, pihak sekolah malah menyalahkan pihak sekolah lain, menurutnya yang harusnya disoroti justru sekolah yang mendapat dana besar’ sebab tidak ada inisiatif untuk membangun sekolah.

Baca Juga:  Rem Blong, Truk Damkar Terguling di Tais

Tentusaja pihak SMPN 7 Lubuklinggau di sinyalir telah melanggar pasal 21 ayat 1 huruf i, tentang larangan penggunaan dana BOS, dan harus segera dilakukan tindakan apakah itu berupa, teguran keras maupun sanki berat’ sehingga kedepan kejadian semacam ini tidak terjadi lagi.

Dok. Amran Kure (*)

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *